New York - Banyak wanita Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkah...
New York - Banyak wanita
Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi mualaf. Namun, tidak
demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Ia telah mengenakan jilbab sebelum masuk
Islam. Dan dari pengalamannya yang unik tentang jilbab itu, ia kemudian
bersyahadat.
Seperti dirilis onislam pasa pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya.
Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam,
prinspi-prinsip dan karakteristiknya.
“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada
isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat
saya sangat tertarik,” tuturnya.
Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita
yang mengenakan jilbab.
Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku
dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al
Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan
para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya.
Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk
mencoba.
“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.
Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang
aneh.
“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut
dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai
orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita
berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam
rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi
ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam
lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.
“Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah
awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya.
Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk
memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan
warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia
sukai saat kembali ke toko buku.
Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat
berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan
yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi
bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.
“Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki
menganggu yang tertuju padaku.”
Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia
mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.
Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan
jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu,
ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Banyak wanita Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi
mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Ia telah mengenakan
jilbab sebelum masuk Islam. Dan dari pengalamannya yang unik tentang jilbab
itu, ia kemudian bersyahadat.
Seperti dirilis onislam pasa pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya.
Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam,
prinspi-prinsip dan karakteristiknya.
“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada
isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat
saya sangat tertarik,” tuturnya.
Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita
yang mengenakan jilbab.
Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku
dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al
Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan
para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya.
Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk
mencoba.
“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.
Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang
aneh.
“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut
dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai
orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita
berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam
rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi
ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam
lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.
“Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah
awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya.
Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk
memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan
warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia
sukai saat kembali ke toko buku.
Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat
berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan
yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi
bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.
“Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki
menganggu yang tertuju padaku.”
Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia
mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.
Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan
jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu,
ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
[Im/Afwaja/Islamichaber]

COMMENTS